Rencana kita sudah dibuat semenjak dari bulan Oktober 2009 akan pergi mengunjungi Gunung Krakatau dan juga Pulau Panaitan (salah satu gugus kepulauan di Ujung Kulon). Akhirnya tanggal pun ditetapkan bahwa tanggal 1-4 April 2010 kita akan kesana.
Ragu-ragu sempat ada di hati beberapa kawanku. Antara iya atau tidak ikut kesana. Beberapa jam sebelum keberangkatan pun akhirnya yang tadi ragu akan ikut akhirnya ikut juga. Ya, akhirnya kita akan berangkat kesana juga. 21 orang total yang akan berangkat kesana. Ridwan sebagai team leader pun memberikan rencana perjalanan kita. Tak lupa sebelum keberangkatan kita pun berdoa agar diberikan keselamatan sampai tujuan dan pulangnya pun akan diberikan keselamatan pula oleh Sang Pencipta.
Carita – Krakatau – Panaitan – Peucang – Carita. Itulah rencana kita kesana. Malam pertama kita akan menginap di Carita, mendirikan tenda di malam kedua dan Peucang atau Panaitan pada malam ketiganya.
Jam 02.00 dinihari tanggal 2 April 2010 kita pun sampai di carita. Sesuai rencana kita akan menginap disini sebelum menyebrang ke pulau krakatau. Pembagian kamar pun telah ditentukan. Kita hanya menyewa 6 kamar untuk 21 orang. 2 kamar untuk laki-laki dan 4 kamar untuk wanita.
Jam 09.00 pagi tanggal 2 April 2010, kita akan menyebrang ke pulau rakata terlebih dahulu untuk melihat keindahan alam bawah laut dan juga menikmati pulau yang tak berpenghuni nan indah sebelum ke Gunung Krakatau dari dermaga carita.
Cuaca bersahabat dengan kita. Terima kasih Tuhan ungkap hati ini. Kita pun bisa menikmati rencana kita di pulau rakata, dan juga melihat biawak disana. Serta melihat dan menikmati keindahan bawah laut disana. Makan siang pun dilakukan disana pula. Menu sederhana tapi istimewa, cukup membuat lidah kita bergoyang. Memang Ridwan dan istri, team leader kita masakannya patut diacungkan jempol.
Jam 02.00 dinihari tanggal 3 April 2010 langit cerah pun berubah jadi hujan lebat. Yang tidur diluar tenda pun segera merapikan alas, masuk ke dalam satu tenda besar. Kabut pun turun. Pulau di depan mata yang tadi terlihat akhirnya tertutup. Begitu lebat. Tapi tiba-tiba hujan berhenti kembali. Tidak berapa lama hujan lagi. Entah apa maksud dari semua ini. Kita tak tahu. Hanya Tuhan Sang Pencipta Yang Tahu Segalanya. Aku dan 2 orang temanku akhirnya tidak bisa tertidur kembali. Bermodalkan jas hujan kita menikmati hujan turun sambil membuat tempat berteduh dari terpal.
Jam 05.00 pagi. Kita bertiga memutuskan untuk ke kapal, untuk sekedar ingin membuat minuman hangat, dikarenakan kompor diletakkan disana. Tapi ternyata ketika kita bertiga sampai disana Lia, istri dari Ridwan sedang menyiapkan sarapan pagi. Akhirnya kita membantu apa yang bisa kita bantu. Tapi tak lupa kita pun membuat minuman penghangat untuk kita bertiga.
Usai sarapan pagi, kurang lebih jam 7 pagi cuaca masih hujan rintik-rintik. Tetapi Pak Arifin, kapten kapal kami pun bilang kepada Ridwan. ”Ayo, sekarang aja kita ke panaitannya. Kalau cuaca seperti ini biasanya laut bersahabat”. Ridwan pun menyetujui dan mengajak kita-kita untuk berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan kita ke panaitan dan peucang.
Jarak pandang di depanpun tiba-tiba tertutup kabut. Hanya beberapa meter kita dapat melihat ke depan. Semakin kencang kita berdoa. Entah berapa puluh atau ratusan kali kita berdoa. Doa apa saja yang bisa kita baca kita baca dalam hati kita masing-masing. Salah satu temanku yang lain pun tiba-tiba kedinginan. Menggigil, matanya pun memerah. Untung jaketku terletak diluar. Akhirnya dia berpindah posisi tempat duduk dan memakai jaketku agar tidak terlalu kedinginan. Aku melihat dia berkomat-kamit tanpa henti. Tak terasa air matanya pun ikut berlinang. Akhirnya aku tau kenapa dia seperti itu ketika sudah selesai perjalanan bahwa dia melihat makhluk halus berbadan tinggi besar sedang menggoyang-goyangkan perahu kita. Pertama di belakangku sebelum dia pindah dan di Ridwan ketika dia berpindah tempat duduk. Seandainya dia cerita ketika dalam perjalanan entah apa yang terjadi.
Pak Arifin dengan tenang pun tetap masih megang kemudi kapal. Aku melihat Ridwan tak henti mulutnya berkomat-kamit mengucpakan doa. Aku pun berusaha membaca apa yang aku bisa. Ombak pun turus menerjang. Entah keberapa kali aku terkena pecahan ombak. Hujan pun tak mau reda. Langit pun semakin berwarna abu-abu. Jarak pandang pun mulai menipis. Ridwan pun melihat kondisi kita, satu persatu. Akhirnya dengan bijak dia berbicara ke Pak Arifin sang kapten kapal kita. Akhirnya diputuskan kita berbalik arah dan mencari pulau terdekat. Satu keputusan bijak dalam hati kita. Mudah-mudahan kita bisa segera merapat ke pulau terdekat. Pinta aku dalam hati kepada Tuhan, seperti teman-teman yang lain juga mengharapkan.
Ya... tak selang 30 menit kita akhirnya menemukan pulau terdekat, dan ternyata pulau itu pulau rakata. Pulau yang kita singgahi kemarin. Tapi dari sisi yang berbeda.Perlahan tapi pasti akhirnya kita mendarat. Cuaca memang sedang tidak jelas. Kejadian aneh di kapal yang dialami oleh temanku entah apa maksud dari semua itu. Sampai jaket Ridwan yang terikat erat pun dengan mudah terbawa angin dan jatuh ke laut entah kemana. Tuhan memang punya rencana yang lain, yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurutNYA.

ijin follow..bos
BalasHapusok bos. thanks dah mampir
BalasHapus